Tampilkan postingan dengan label (bisa dibilang) puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (bisa dibilang) puisi. Tampilkan semua postingan

Sisa Tahun Lalu

Hari ini setahun yang lalu..
Kau bilang hanya pergi sebentar
Nyatanya kamu bohong
Semenjak itu puisiku menjadi lembab
Ada sesak yang tak kunjung mereda dalam baitnya
Waktu yang kian menua rupanya sama sekali tak memberi penawar
Malah jadi hantaman yang acapkali meninggalkan rasa nyeri
Kamu dimana?
Aku kangen

Hari ini setahun yang lalu..
Aku bilang aku akan menunggumu
Dan memang benar aku masih menunggu
Dalam pagi yang mengurai larik jingga 
Dan malam yang mulai merambatkan cahaya

Memang ada yang tak bisa disepadankan pada tiap-tiap orang
Mungkin perihal janji
dan kesetiaan

Hari ini..
Kutemukan diriku meradang pilu
Karena kamu di setahun yang lalu

#TantanganMenulis
#CintaHariIni

Ya

Dan kumengerti Tuhan telah memberi sandi
Lewat subuh yang silih melingkari
Kemudian satu per satu embun mulai mati
Dan izinkan aku berpangku lagi

Miranda...

Menari dalam lumpuh
Bernyanyi dalam biru
Miranda..
Senyum dalam semu
Tertawa dalam keruh
Miranda..
Rasamu tersemat
Cintamu hianat

- Ch. Ay. Chayanti -

Kratak! ( Buat Juple )

Entah apa yang saya tulis. Cerpen? Pantun? Puisi? Ah Whatever.
Yah seperti biasa ke-error-an menderai jiwa saya yang surealis ini. Sebuah goresan aneh yang saya persembahkan for my unyues littlesist (whaaat? Littlee).
Yaps, this scratach for you juple :) Hope you’ll smile or laugh after read this one, an error text ever in my cute blog, enjoy :D

KRATAK
Kratak oh kratak
Sekratak jiwaku yang kian mengkratak
Dengan sejuta kratak dan gugusan terkratak
Kratakku yang menguak kekratakan
Tentang krataknya hatiku yang tak tak
Terbang diambang kratak
Berlari bersama kepingan kratak
Pergi direnggut krataknya kratak
Kratak berderai
Lebur berkratak
Kratakku semakin kratak
Saat dikratak desiran kratak
Hingga denyut kratak begitu krataknya
Kamu disana. Oh kratak
Rautmu. Oh kratak
Senyumu. Oh kratak
Tuturmu. Oh kratak
Tingkahmu. Oh kratak
Candamu. Oh kratak
Diammu. Oh kratak
Pehapemu. Oh Ke ra tak
Kratak? Puas? Kratak?
Kaukratakkan aku menuju kratak
Kaukratakan aku jatuh terkratak
Kaukrtakan aku terlempar terkratak
Mengkratakkan ketulusan
Miris. Ah kratak
Apalah arti kekratakan ini
Jika kratakku bukan kratakmu
Harap kratak kratak bersama kratak J
Bye kratak. Kratak pengen move on .
Makaseeeeh *kratak*

SempurnaHujan ~

Bangunkan aku saat hujan turun
Bukan saat pelangi telah menuai
Pelangi memang indah
Namun hujan terlalu sempurna untuk dilewatkan

- Ch. Ay. Chayanti -

Entah

Siapa kamu?
Entah
Mengapa kau sendiri?
Entah
Darimana kau berasal?
Entah
Siapa yang membawamu kemari?
Entah
Hei, Kau sakit?
Entah
Kau kedinginan?
Entah
Apa yang kau bawa? Pisau?
Entah
Mengapa wajahmu basah?
Entah
Apa kau usai menangis?
Entah
Tak ada yang memperhatikanmu?
Entah
Atau kau kehilangan kepinganmu?
Entah
Dunia membuangmu ya?
Entah
Mengapa kau hanya membalas "entah"?
Entah
Apakah kau tidak punya kata lain selain "entah", payah sekali kau!
Berhentilah bertanya. Membingungkan, aku adalah bagain dari dirimu. Cukup. Jawab sendiri semua pertanyaan bodohmu itu.
ENTAH!!! LEMAH!! PAYAH!! MUSNAH!!


Persimpangan #2

Sebuah jalan bercabang yang harus kita pilih kemana kita harus menuntun langkah
Pada jeda ini kita melepaskan ikatan yang sebenarnya tidak pernah ku ikatkan, oh mungkin pernah, namun semu. Sepert kabut, dari kejauhan Ia tampak nyata, namun saat Ia sampai di pelupuk mata, Ia begitu samar nyaris tak terlihat. Tau mengapa? Karena kabut itu telah menyatu

Persimpangan

Sejenak
Memaksa kata
Mati langkah
Sunyi suara
Tetap sejenak
Mengintip suatu jejak
Persimpangan
Mengayun langkah
Derap yang berbeda

Abstrak

1. Gores
         2. Bergores
                              3. Lembut
                                     4. Semrawut
                                                     5. Siram
                                                            6. Ah jangan
                                                                                   7. Hmm
                                                                                          8. Boleh, siram
                                                                                                                   9. Tinta..
                                                                                  10. Menancap
                                                                                          11. Tinta lagi
                                                      12. Tanpa kuas
                                                                 13.  Tiga jari
                            14.  Mengukir
                                      15. Hampir..
16. Selesai..
       17. Abstrak :)

?




Hatiku larut dalam puisi
Tenggelam ke dasar syair
Terbawa deburan sajak
Berlayar menuju bait
Dan berlabuh menuju prosa 

Jika Suatu Saat Nanti

Jika suatu saat nanti, tak kau temukan nafas dalam hirup pahitku, hampa dalam derak matiku, darah dalam serak biruku, biarlah tulisan ini menjadi kawanmu
Jika suatu saat nanti, tak pula kau dengar canda dalam abstraku, tak pula kau lihat binaran pancaranku, tak pula kau rasakan untain sketsa aksaraku, biarlah pula tulisan ini menemanimu
Jika suatu saat nanti, kau temukan jejaku terhapus hujan, kau temukan asaku membentur karang, kau temukan sunyiku lepas bersama malam, biarlah jua tulisan ini mampu mengobati pilumu

Bayanganku Telah Mati

Aku berjalan menapaki masa lalu
Namun yang ku temukan hanya aku, ah bukan aku
itu hanya bayanganku
Ia tersungkur, badannya berlumur darah
Sementara kayu menancap tepat di jantungnya
Kemana dia? Kemana mereka?
Mengapa mereka membiarkanku,
maksudku bayanganku tertelan dalam dimensi
Aku menangis, pohon tertawa
Aku bertanya, ranting membisu
Aku menjerit, tanah melempar
Namun bunga membela
menyelip antara jemari
Mulai lempar senyum
Tak begitu redup, aku berdiri
dengan sayup kudendangkan
"Bayanganku telah mati"


Malam, apa kau marah?


Hei malam
Kenapa kau begitu muram?
Kenapa kau sembunyikan keindahanmu?
Mana gradasi warnamu?
Ah, janganlah kau perlihatkan raut seperti itu
Apakah kau marah?
Aku pernah berbicara tentang bintangmu
Pernah kuambil lantas kubawa ke alam mimpiku
Mungkin hingga sekarang masih bersemayam
Aku merasakan Ia terlelap bersama deraian nafasku 
Aku juga pernah melukis bulanmu
Kurekatkan erat ditelapak tanganku
Ia terselip diantara guratanku
Ia tetap sama, belum pudar, malah semakin nyata 
Kabut? Bagaimana dengan kabut?
Dengan sendirinya Ia datang
Menggandengku, mendekapku
Ia begitu dingin, jadi kuhangatkan Ia
Namun aku juga belum hangat, Jadi kami sama-sama dingin
Hmm, hewan malamu juga menghampiriku
Kadang mereka membuatku takut
Tapi aku suka melodi yang mereka ciptakan
Melodinya kini menyatu dalam ragaku, membeku dalam uratku

Apa karena itu kau marah?
Aku tak bermaksud mengambil semua itu, sungguh
Kau cemburu ya?
Aku ngga merebut kok, serius
Mungkin aku hanya ingin bersama mereka untuk beberapa saat
Bukan untuk selamanya
Saat ini aku hanya merasa kesepian Lam, Malam.
Apa kau mengerti arti kesepian?
Sepi, krik krik
Masih marah?
Baiklah, ini aku kembalikan kepadamu
Bawalah mereka lagi
Tapi, bawa juga aku.. Menjadi bagianmu..
Hingga detak menjemputku



Diantara Dandelion, Angin, dan Senja

Kali ini sebelum bulan menjemput, sebelum mentari beristirahat dengan tenang di peraduannya, lukisan senja diatas kanvas semesta yang digoreskan oleh kuas Tuhan tergantung rapi seperti biasanya. Hei, apakah kau juga melihat keindahan sama? Semoga saja begitu. Entah mengapa aku selalu menyukai senja dan segala apa yang ditawarkannya, mulai dari hempasan sayap yang dikibarkan oleh burung-burung, pancaran sinar surya diujung batas dengan semburat merah keunguan, dan yang paling aku suka adalah sayup-sayup desiran angin. Angin yang telah membawa dandelion pergi sebelum dapat ku lihat keindahannya, namun Ia tetap saja indah.
Hei kau, kali ini aku menitipkan salamku diantara benih-benih dandelion yang terbang tinggi, semoga saja angin mengantarnya dan membiarkannya berlabuh ditempat dimana kau berdiri saat ini. Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama? Menitipkan salammu padaku lewat benih dandelion? Hehe tak ada alasan untuk melakukan hal itu.
Kau tak mengerti dan memang tak perlu kau mengerti. Kau tau? Saat ini aku berusaha menjadi dandelion. Bukan merekahnya yang membuat Ia indah, tapi manakala angin bertiup yang menerbangkan benih-benihnya. Bukan "rasa" ini yang indah, tapi manakala "rasa" ini bertiup pergi menuju entah kemana, dimana, dan dengan siapa Ia akan berlabuh dan menyatu.
Diantara dandelion, diantara angin, diantara senja, temukan doaku

Senja ini...

Senja ini
Aku menatapmu
Dibawah merah
Dipayung Jingga
Kubah

Senja ini
Aku mendengarmu
Sayup-sayup suara
Butiran hujan
Jejak taman

Senja ini
Aku menantimu
Dicengkam memori
Berlari, lalu kembali

Senja ini
Aku mulai sepi
Hampa larut dalam puisi
Selimuti nadi
Tiada lagi

Jika esok
Atau esoknya lagi
Aku tiada disini
Berarti aku telah pergi
Dihisap pelangi
Kemudian hilang
Kembali setelah hujan

Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates