Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Memasung Dendam

Mematung
Sendiri ku tertegun

Waktu terbilang, satu per satu detik bergulir, kemudian memudar beralih

Keheningan memanjang..

Apa lagi yang kamu inginkan?
Melihatku mati tercekik,
membusuk, sejurus jadi bangkai?

Kedendaman terus memanjang..

Sementara waktu berjalan, tak mau dan tak sudi menunggu, sakit tak pudar beralih

Sendiri ku tertegun
Memasung


Tretes dibawah rintik hujan
30 Januari 2014

Persimpangan

Sejenak
Memaksa kata
Mati langkah
Sunyi suara
Tetap sejenak
Mengintip suatu jejak
Persimpangan
Mengayun langkah
Derap yang berbeda

Abstrak

1. Gores
         2. Bergores
                              3. Lembut
                                     4. Semrawut
                                                     5. Siram
                                                            6. Ah jangan
                                                                                   7. Hmm
                                                                                          8. Boleh, siram
                                                                                                                   9. Tinta..
                                                                                  10. Menancap
                                                                                          11. Tinta lagi
                                                      12. Tanpa kuas
                                                                 13.  Tiga jari
                            14.  Mengukir
                                      15. Hampir..
16. Selesai..
       17. Abstrak :)

?




Hatiku larut dalam puisi
Tenggelam ke dasar syair
Terbawa deburan sajak
Berlayar menuju bait
Dan berlabuh menuju prosa 

Jika Suatu Saat Nanti

Jika suatu saat nanti, tak kau temukan nafas dalam hirup pahitku, hampa dalam derak matiku, darah dalam serak biruku, biarlah tulisan ini menjadi kawanmu
Jika suatu saat nanti, tak pula kau dengar canda dalam abstraku, tak pula kau lihat binaran pancaranku, tak pula kau rasakan untain sketsa aksaraku, biarlah pula tulisan ini menemanimu
Jika suatu saat nanti, kau temukan jejaku terhapus hujan, kau temukan asaku membentur karang, kau temukan sunyiku lepas bersama malam, biarlah jua tulisan ini mampu mengobati pilumu

Bayanganku Telah Mati

Aku berjalan menapaki masa lalu
Namun yang ku temukan hanya aku, ah bukan aku
itu hanya bayanganku
Ia tersungkur, badannya berlumur darah
Sementara kayu menancap tepat di jantungnya
Kemana dia? Kemana mereka?
Mengapa mereka membiarkanku,
maksudku bayanganku tertelan dalam dimensi
Aku menangis, pohon tertawa
Aku bertanya, ranting membisu
Aku menjerit, tanah melempar
Namun bunga membela
menyelip antara jemari
Mulai lempar senyum
Tak begitu redup, aku berdiri
dengan sayup kudendangkan
"Bayanganku telah mati"


Malam, apa kau marah?


Hei malam
Kenapa kau begitu muram?
Kenapa kau sembunyikan keindahanmu?
Mana gradasi warnamu?
Ah, janganlah kau perlihatkan raut seperti itu
Apakah kau marah?
Aku pernah berbicara tentang bintangmu
Pernah kuambil lantas kubawa ke alam mimpiku
Mungkin hingga sekarang masih bersemayam
Aku merasakan Ia terlelap bersama deraian nafasku 
Aku juga pernah melukis bulanmu
Kurekatkan erat ditelapak tanganku
Ia terselip diantara guratanku
Ia tetap sama, belum pudar, malah semakin nyata 
Kabut? Bagaimana dengan kabut?
Dengan sendirinya Ia datang
Menggandengku, mendekapku
Ia begitu dingin, jadi kuhangatkan Ia
Namun aku juga belum hangat, Jadi kami sama-sama dingin
Hmm, hewan malamu juga menghampiriku
Kadang mereka membuatku takut
Tapi aku suka melodi yang mereka ciptakan
Melodinya kini menyatu dalam ragaku, membeku dalam uratku

Apa karena itu kau marah?
Aku tak bermaksud mengambil semua itu, sungguh
Kau cemburu ya?
Aku ngga merebut kok, serius
Mungkin aku hanya ingin bersama mereka untuk beberapa saat
Bukan untuk selamanya
Saat ini aku hanya merasa kesepian Lam, Malam.
Apa kau mengerti arti kesepian?
Sepi, krik krik
Masih marah?
Baiklah, ini aku kembalikan kepadamu
Bawalah mereka lagi
Tapi, bawa juga aku.. Menjadi bagianmu..
Hingga detak menjemputku



Senja ini...

Senja ini
Aku menatapmu
Dibawah merah
Dipayung Jingga
Kubah

Senja ini
Aku mendengarmu
Sayup-sayup suara
Butiran hujan
Jejak taman

Senja ini
Aku menantimu
Dicengkam memori
Berlari, lalu kembali

Senja ini
Aku mulai sepi
Hampa larut dalam puisi
Selimuti nadi
Tiada lagi

Jika esok
Atau esoknya lagi
Aku tiada disini
Berarti aku telah pergi
Dihisap pelangi
Kemudian hilang
Kembali setelah hujan

Puisi - Elang Laut ( Asrul Sani )

Elang Laut

Ada elang laut terbang
Senja hari
Antara jingga dan merah
Surya hendak turun,
Pergi ke sarangnya.
Apakah iya tahu juga,
Bahwa panggilan cinta
Tiada ditahan kabut
Yang menguap dipagi hari?
Bunyinya menguak suram
Lambat – lambat
Mendekat, ke atas runyam
Karang putih,
Makin nyata
Sekali ini jamu dan keringat
Tiada akan punya daya
Tapi topan tiada mau
Dan menghembus ke alam luas.
Jatuh elang laut
Ke air biru, tenggelam
Dan tiada timbul lagi.
Rumahnya di gunung kelabu
Akan terus sunyi,
Satu – satu akan jatuh membangkai
Ke bumi, bayi – bayi kecil tiada
Bersuara.
( Tongak 1, 1987 )
Asrul Sani

Puisi - Niaga Dalam Goresan

Kenal Wahyu Setiadi? Dia adalah salah satu penulis dari Pasuruan yang tergabung di Teater CuciOtak Rahmatalam. Pernah mendapat aktor terbaik se-jatim, penulis naskah terbaik se-jatim, dan sutradara terbaik se-jatim (entah event apa itu). Well, dari semua puisi yang telah dibuat sama Mas Wahyu, Tins paling suka dengan puisi yang satu ini :) weheheh. Check it out!



Niaga Dalam Goresan
Wahyu Setiadi

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Berdandan dengan debu menggelayuti mimpi yang bagiku cuma mimpi

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Tanpa sol sepatu di atas kaki mungilku menapaki panasnya hari

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Juga anak negri ini,juga berhak hormat pada merah putih

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Lihatlah tuan lihatlah....

Tuan lihatlah tuan...
Tanganku terkepal di paksa meninju kerasnya pagi
Lihatlah tuan,aku lihat tuan punya mata
Tapi aku tak lihat tuan punya hati

Puisi Dalam Doaku - Sapardi Djoko Damono

DALAM DOAKU

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates