Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Dandelion Kecil (Benih 1)

Bissmillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warohmatullahi Wabaraokatuh
Terimakasih Alloh Swt yang membuat saya menulis cerpenyang bisa dibilang sangat minimalis ini. Sholawat dan salam tetap tercurahkankepada Rasulullah Saw

Berikut ini adalah perbaikan dari cerpen Dandelion Kecil yang pernah saya buat beberapa waktu yang lalu. Terimakasih untuk siapapun yang sudah membaca dan memberikan sarannya. Makasih mas wahyu yang sudah mengingatkan saya lewat komentarnya di cerpen dandelion 2 versi Juple sama mas rijal yang biasanya sebagai konsultan.

Selamat Membaca :)

DANDELION KECIL (BENIH 1)
Tins

          Sore itu angin berhembus sangat sejuk,membawaku menikmati keindahan padang ilalang yang terbentang sejauh mata memandang. Pemandangan ini yang sering aku nikmati ketika hari mulai petang dan langit mulai memerah. Sungguh pemandangan khatulistiwa yang menenangkan hati.Aku berbaring ditengah-tengah lautan putih kapas yang membuatku serasa berada diantara gumpalan awan, bertemu burung-burung yang bermigrasi, betapa indahnya.Hingga mataku tertuju pada sebuah bunga yang bersembunyi dibalik ilalang, bunga putih yang berukuran kecil. Bunga dandelion. Aku mengamati bunga itu diterbangkan oleh angin, dengan ikhlas biji-biji bunga itu mengikuti kemana arah mata angin tanpa tahu dimana Ia akan berlabuh, apakah di tanah subur? Ataukah di tanah yang gersang? Dandelon itu mengingatkanku pada sebuah cerita beberapa tahun yang lalu. Sebuah cerita sederhana yang menyadarkanku tentang arti keikhlasan,pengorbanan, dan impian.
Cerita ini dimulai pada sepertiga malam saat aku terbangun. Sebelum pagi menjemput, sebelum bulan separuh yang seolah terbingkai jendela kamarku lesap ke peraduannya. Seperti malam-malam sebelumnya aku berjalan menyusuri dinginnya lantai di Panti Asuhan . Dengan mata sayup-sayup aku melewati lorong menuju kamar mandi yang letaknya kurang lebih 8 meter dari kamar yang aku tempati. Seketika kakiku berhenti melangkah saat telingaku mendengar isak tangis dari sebuah kamar tidur. Aku mengenal suara itu, suara itu sudah tidak asing lagi bagiku.Kubuka pintu kamar itu perlahan, terlihat seorang gadis kecil duduk tersimpuh di atas sajadah mengenakan mukenah putih sedang menangis terseduh mengahdap baitullah.

            Itua dalah Tiara. Aku memanggilnya dengan lembut. Tapi tidak ada jawaban. Aku memanggilnya sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban. Ketiga kalinya ku memanggil dan bertanya apa yang terjadi, gadis berlesung pipi itu menoleh ke arahku, matanyayang berkaca-kaca memandangku lekat. Sesaat aku terpaku melihatnya tetapi isakannya mampu menyadarkanku. Aku berlari dan memeluknya erat.

            “Buat apa Tiara hidup di dunia?Tidak ada yang sayang aku!” Bisik Tiara tertahan.

            “Apa yang kamu katakan?”

            “Impian, harapan, mimpi, semua itu bohong!”Nadanya tinggi.

            “Tiara, apa maksudmu? Apa yang terjadi?” Aku semakinbingung.

            “Mengapa? Mengapa semua terjadi?Mengapa? Aku.. aku..”

            Tiara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya tersekat. Isaknya semakin meluap. Semakin derasair matanya semakin erat pula aku memeluknya. Aku mencoba menggenggam tangannya yang sedingin es. Berusaha mengirimkan sedikit kehangatan yang menyelinap diantara jemari-jemariku.

            Tiara terdiam namun air matanya tetap mengalir dan terus mengalir. Baru pertama kali aku melihat sosok Tiara si gadis kecil yang  selalu ceria kini meluapkan kesedihan yang begitu mendalam. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, Tiara mencoba mengumpulkan energi dan merangkai kata.

           “Mbak,apa Tiara punya ibu? Lantas dimana ibu Tiara berada? Tiara ingin kejujuran mbak. Apa benar yang dikatakan orang-orang bahwa Tiara pernah dibuang? Apa itubenar?”

           Akuter diam. Jantungku berdegup kencang.

            “Mbak, kenapa diam? Jawab Mbak.Dimana ibu Tiara?”

           Kalimatnya telah membekukan hatiku. Gadis kecil itu telah mengatakan satu kata yang membuat keringat dingin mengguyur tubuhku. Satu kata yang artinya begitu dalam melebihi dalamnya samudera, yang begitu tinggi melebihi tingginya gunung. Ya, hanya satu kata yaitu “ibu”. Aku tidak tahu apa yang harus akukatakan dan apa pula yang harus aku lakukan. Aku terdiam mematung di depan seorang gadis kecil yang memandangku tajam, setajam pisau yang menancap pada apel merah.Tiara melanjutkan pekataannya.

           “Tiara memang tidak punya ibu. Tiara tidak pernah merasakan cara ibu mengobati lukaTiara saat jatuh dari sepeda. Tiara tidak pernah merasakan ibu mencium Tiarayang kata orang-orang ciumannya begitu hangat. Tiara tidak pernah mendengarkan ibu mendongeng “Cinderella” atau “Rapunzel” sebelum Tiara tidur. Tiarat idak pernah… tidak pernah..”

            “Tiara!”Aku memotong pembicaraan

            Aku merasakan mataku basah. Sesuatu mengalir di rongga dada, mendengar penyaksian seorang gadis kecil berumur 7 tahun yang selama hidupnya tidak pernah melihat malaikat bernama ibu. Hati merasa teriris tatkala mengingat pada suatu malam,Ia menggambar sosok ibu di atas lantai dan Ia tidur di atas gambar itu tanpa beralaskan apapun. Pernah pada malam lain Ia mengisi sepasang sarung tangan dengan kain dan memelukan ke badanya sendiri hanya sekedar ingin merasakan pelukan seorang ibu. Aku menghela nafas dalam-dalam. Sekali menyeka air mata.

            “Tiara, bukankah kau masih mempunyaiMas Wahyu. Mas Wahyu telah bekerja keras untuk membahagiakanmu.” Hiburku

            Degup jantungku yang keras mulai mereda.Ya,setidaknya Tiara masih sedikit beruntung daripada anak-anak lain dipanti asuhanini. Mas Wahyu adalah seorang yang selalu bekerja keras disaat yang lain bermalas-malasan, seorang yang tangguh saat yang lain menyerah, bahkan yang paling aku kagumi dia adalah seseorang yang masih mempunyai mimpi disaat yang lain berhenti.

            “Mas Wahyu bukan ibu”

            “Tapi Ia selalu berusaha menyenangkanmu, menenangkanmu, memberimu cinta dan kasih sayang, layaknya seorang ibu. Mas Wahyu jugalah yang mengajarkanmu cinta dan kasih sayang. Bukankah Mas Wahyu juga yang mengajarkanmu tentang impian.”

            Tiara kembali terdiam. Sesekali terdengar isakan darinya. Malam semakin malam. Bulan separuh masih bertenggek santai seolah terbingkai jendela, dengan semburat-semburat putih, seperti mengenakan mantel perak. Bintang masih berserakan, mengotori langit dengan kemerlapnya. Kabut semakin pekat dan dingin, sedingin hati Tiara.

            “Impian? Apa salah kalau Tiara yang yatim piatu ini punya impian. Tiara punya banyak mimpi dan harapan, tapi apa bisa diraih? Kata teman-temanku di sekolah, anak sepertiku tak pantas untuk bermimpi, yang harus  Tiara lakukan cuma meratapi nasib.” Suara patah-patah Tiara.

             “Impian dan harapan bukan hanya dimiliki oleh orang-orang yang tinggi, bukan hanya dimiliki orang-orang yang berpunya, bukan hanya dimiliki orang-orang yang berdasi, Tiara. Kita mempunyai hak akan hal itu”. Terdengar suara laki-laki muncul dibalik pintu.

            Aku terpaku melihat bayangan dibalik pintu itu. Kemudian setelah tersadar aku tersenyum. Itu adalah Mas Wahyu. Mas Wahyu tidak sengaja melewati kamar itu dan mendengarkanku menyebut namanya.Hal itu membuatnya ingin ikut larut dalam pembicaraan.

            Seperti biasanya, Mas Wahyu berpakaian sederhana. Malam itu Ia mengenakan kaos berwarna biru muda dan dalam balutan jaket tebal berwarna hitam yang hitamnya mulai kusam. Rambutnya yang basah sedikit acak-acakan. Senyumnya mengembang, tubuhnya tinggi besar dengan dada bidang. Ia membawa sebuah kantong plastik yang isinya sudah bisa kutebak.Pasti terang bulan rasa cokelat dengan sedikit taburan kacang yang digoreng setengah matang. Memang setelah menerima gaji, Mas Wahyu tak lupa membelikan makanan kesukaan Tiara. Pria berumur 21 tahun itu menghampiri kami. Saling berpelukan dengan Tiara dalam waktuyang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. MasWahyu meletakkan Tiara di atas pangkuannya. Dengan manjanya Tiara bersandar di bahu pria yang bekerja sebagai tukang bangunan 3 tahun silam itu.Beberapa waktu kami tediam, tanpa suara. Yang terdengar hanyalah desiran air kolam yang gemericik dengan riak-riak kecil yang letaknya tepat di bawah jendela dan suara detik jam dinding bergambar Disnep yang berada di sudut kamar. Kami hanya menatap satu sama lain. Sesekali aku melihat ke luar jendela. Melihat kunang-kunang menari berirama didekat pohon cemara yang tingginya sekitar 5meter.

            “Mas Wahyu jadi teringat akan sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Thomas Fuller “Kalau bukan karenaharapan-harapan, maka hati pun akan mati””. Mas Wahyu memecah kesunyian

                “Kata “mati”adalah representasi dari misteri, bukan?” Aku menimpali

                “Ya benar. “Mati” adalah representasi dari misteri. Manusia tidak tahu kapan ia akan menjadi bangkai dan kembali pada tanah. Tetapi karena ada kata “harapan” mereka tetap mencoba bertahan dalam sebuah misteri itu.”

             Aku mencoba mencerna kalimat yang diucapkan Mas Wahyu.Waktu terasa membeku, angin pun mati. Awan mendung menggumpal di atas langit.Ku mainkan jari-jari tanganku. Ruangan kembali senyap. Kini senyapnya lebihlama.

            “Jadilah pribadi yang tegar, Tiara”

            Pandanganku kembali ke arah MasWahyu. Tatapannya sangat tajam namun tidak menghilangkan karakternya yang penuh kelembutan. Sering aku melihat tatapan seperti itu, sebuah tatapan yang memberikan sebuah keyakinan dan kepercayaan. Mas Wahyu mencium kepala Tiaralalu menghirup nafas panjang. Mengulang hal yang sama sebanyak tiga kali.Hingga akhirnya meneruskan perkataanya.

            “Berusahalah tegar Tiara. Ikhlaslah menjalani hidup. Hidup adalah sebuah pengorbanan. Dengan pengorbanan akan telahirlah impian. Berjanjilah pada Mas Wahyu bahwa kelak seorang Tiara yang tiada pernah melihat sosok ibu mampu menjadi orang yang hebat dan sukses. Jika tidak mampu menjadi batu karang janganlah menjadi batu karang. Jika tidak mampu seharum mawar janganlah menjadi mawar. Jika tidak bisa sehangat mentari janganlah menjadi mentari. Cukuplah menjadi dandelion kecil. Ya, dandelion kecil” Mas Wahyu tersenyum kecil, wajahnya berbinar.

          Kami bertiga kembali terdiam.

          Langit masih belum bosan memerah. Aku masih terbaring ditengah-tengah lautan putih kapas yang membuatku serasa berada diantara gumpalan awan,bertemu burung-burung yang bermigrasi. Lama aku memikirkan apa yang dimaksudkan Mas Wahyu tentang “Dandelon kecil”. Tapi kini aku mengerti. Dandelion kecil terlihat sangat rapuh saat dipukul angin, tapi Ia masih berusaha tegar melawaan hempasan sang angin. Hidupnya sederhana, saat merekah maka ikhlaslah biji-biji bunganya terbang tinggi, jauh, melayang mengiringi langkah angin, Ia rela meninggalkan ibunya. Dandelion kecil sosok yang sangat kuat,memiliki keberanian hebat untuk mencari kehidupan baru di luar sana. Mampu terbang tinggi, menjelajah dunia luas sampai akhirnya mendarat di tempat baru dan tumbuh menjadi sukma yang baru. Dandelion kecil mengambil langkah yang beresiko dan pengorbanan demi pencapaian impian hidup yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.




♥♥♥♥♥♥♥- Sekian- ♥♥♥♥♥♥♥
                                                                                                                      Salam,
                                                                                                                      @nur_chayanti


Edisi kedua sudah dirampungkan oleh adek saya yang cantiknya tidak perlu dipertanyakan lagi karena memang jelas kebohongannya yaitu Aulia Azizah alias Juple, baca di
http://www.facebook.com/notes/zivanna-editia-agatha/dandelion-kecil-chapter-ii/10151404448237974
Buat juple, dandelion benih 3 katanya dibuat sama bella? tapi belum. Hehe. aku udah buat tapi prolognya sajjaaa..

Baiklah sekian dari saya
Salam dandelion :)   

Cerpen - Robohnya Surau Kami - A. A Navis



Robohnya Surau Kami
Cerpen AA Navis

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi."

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"

"Siapa?"

"Ajo Sidi."

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. _ Alhamdulillah_ kataku bila aku menerima karunia-Nya. _ Astagfirullah_ kataku bila aku terkejut. _ Masya Allah_ kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘Apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memer`s. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya, dia pergi kerja."
Robohya Surau Kami - A.A. Navis

Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates