Tampilkan postingan dengan label Him. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Him. Tampilkan semua postingan

Does it need to be said?

Thanks for all that you have done and still do to help me get in touch with who I really am
For being such an amazing person
          trust, believe, and forgive myself
  
Thanks both for being exactly who you are
   for teaching me everything and reminding what truly matters in life

and says to me "You're more than you know"
be bold, be a fighter! we are warriors, right?

And.. thanks for coming into this world and bringing your peaceful, beautiful spirit into my life
 
Honestly, I'm glad to be yours
                                          So glad, to be YOURS


Tretes, when the rain comes

Tidak Hari Ini

Besok...

Aku akan menjadi perempuan bijak
Yang mampu memilah segala urusan dengan bijak
Segalanya kuatur sebijak mungkin
Juga lebih sabar menghadapi ejekan orang lain 
Akan kubiarkan pundakku sebagai sandaran siapapun yang sedang dirundung masalah
Aku akan menjadi pendengar yang baik yang tidak banyak bicara

Aku akan pandai memasak
Aku akan belajar kepada ibu supaya makananku tidak lagi keasinan
Sehingga aku tak perlu lagi menelan mie instan tiap hari
Jadi aku akan menjadi ratu dapur yang selalu ku impikan

Aku akan mengatur pola makanku
Agar maagku tidak lagi kambuh
Jadi aku tidak perlu lagi memegang erat perutku sambil mengigit bibir bawahku
Aku juga tidak lagi hujan-hujanan, sungguh pilek itu tidak enak

Lalu, aku akan berusaha menyisihkan waktu untuk mimpiku
Karena aku yakin tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha
Kemudian aku akan selalu berbuat baik kepada siapapun, tanpa pamrih
Membantu Pak Bon mendorong tong sampai hingga ke ujung lapangan

Besok, nantinya akan muncul keyakinan bahwa hidup terlalu singkat untuk kita sia-siakan
Pada akhirnya aku akan memiliki keberanian dan percaya pada diriku sendiri, meskipun tak ada orang lain yang percaya padaku
Membuat mimpiku menjadi lebih nyata

Tapi tidak hari ini

Hari ini berlusin-lusin perkara bertengger di otakku
Sehingga aku belum bijak memilah mana yang harus kuselesaikan terlebih dahulu
Hari ini aku masih saja belum pandai memasak
Jadi aku masih harus menelan mie instan yang jelas tidak baik bagi kesehatan
Di sekolah aku masih saja uring-uringan gara-gara kuisioner yang tak kunjung mereka kerjakan, masih saja mengantuk saat pelajaran, PIB masih sering absen
Hari ini masih lambungku sakit lagi saat latihan teater, lalu sepulangnya aku diguyur hujan
Memang aku terlalu ceroboh dalam banyak hal
Dan hari ini aku masih saja gadis bodoh yang sangat malas, yang masih ragu melangkahkan kaki, masih takut menghadapi dunia

Tapi besok

Aku benar-benar akan berubah
Melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, aku tak akan gentar
Besok aku akan menyediakan waktu untuk semua urusan
Karena jauh dalam hatiku, aku mengerti bahwa apapun yang tidak segera kuperbuat takkan pernah terjadi
Karena besok tidak pernah tiba

Tapi tidak untuk hari ini 

Tretes tak berawan,
1 Februari 2014

♥?


Dia, lelaki yang memenjarakan bintang tepat di kedua matanya, indah bukan? Ya, lelaki yang hampir kuselipkan dalam setiap sujud, kupanjatkan dalam tadah, yang membuatku masih tegar bertahan dan sabar menanti. Aku mencintanya lebih dari sekadar karena paras dan tulisannya. Tapi aku mencintainya karena cinta itu sendiri. Namun seringkali cinta tak bisa terucap , aku mencintanya tanpa tahu bagaimana harus berkata. Dia... terlalu indah. Yang aku tahu hanyalah jarak yang dengan bijak mendewasakan dan waktu yang dengan sopan menyabarkan. Aku masih menantinya :)

Sembab

Malam kemarin langit terlihat sembab. Sempat ia menyapa doa yang hinggap dan terbang diantara pundinya. Lalu dengan lirih ia tiupkan udara disudut sajadah, disana ada air mata. Ada kesembaban lain. Kembali Ia mengiba.Memang ada yang salah dengan malam itu, oh mungkin bukan malam yang salah tapi perasaan’nya’ sendiri. Hei kau, jika dia tiada lagi merindumu, maka pahamilah jejaknya karena dia pernah menyapa dan menulis tentangmu.

Lantun

Setiap jangka yang terlangkah adalah cerita yang kujaga, yang kurasa, terbasah oleh silogis kata, yang bagiku seperti terpasung dalam tanda pena dengan jarak dan koma


Sementara doa masih memejam, harap dia akan bermuara pada pucuk langit, pucuk semesta, dan bertemu dengan Sang Maha Segala, segala sukma, segala raga, kau merasakannya kan?


Kini aku berpijak pada awan jingga, kemarilah akan kuajak kau terbang menebus mega. Akan kuajarkan kau bagaimana membiaskan pelangi. Kau seorang pemimpi kan? Bagiku iya, pemimpi yang dengan nakal masuk dalam mimpi, mimpiku sendiri


Dan sejenak kita akan saling bicara dalam bisu, mendengar dalam tuli, dan bergerak dalam isyarat
Dan sekejap kita akan membodohkan diri, menertawakan sendiri dalam tawa yang menerka tanya, entah apa jawabnya

Sekeping saja

KAU adalah jeda yang ingin kulanjutkan
Namun AKU adalah angka yang tak ingin kau hitung
Dan KITA adalah babak yang terpotong hujan

Gerimis


Untuk sekian waktunya, aku mengeja gerimis. Kutarik segala angin, pada lembar kabut


Entah apa maksudnya, gerimis selalu saja menghantarkan pada narasi. Sebuah definisi sederhana tentang sisi putih kehidupan.


Dalam rangkaian gerimis kutemukan bercak-bercak kenangan, baik tentang persahabatan, persaudaraan, kasih sayang, bahkan cinta. Untuk siapapun itu.


Aroma tanah, aroma basah, disuguhkan dalam menu penghirupan. Kilauan daun, tetesan embun, pun disuguhkan dalam menu pengelihatan. Balutan angin, runtuhan air, jua disuguhkan dalam menu perabaan.

Keep calm and enjoy the rain!! 

Lepas!

Hanya seberkas tulisan
Yang dengan sengaja kugores untukmu
Untukmu perempuan hebat
"Hafizah Sururul Nur Rakhamawati"
Halilintar menyambar bak akar serabut melukis langit
Wajah perempuan itu merah padam, kemarahannya tersekat di tenggorokannya sendiri, menerima  kembali dengan pahit genjatan penghianatan dari sang pujangga, entah sudah keberapa kalinya. Ia merenung sejenak, kembali memaksa otaknya menayangkan kenangan-kenangan masa silam. Tak begitu lama kemudian Ia mulai menangis bersamaan dengan rintik-rintik hujan yang dengan sombong mulai menguasai dataran lereng gunung itu. Dia sesenggukan, air matanya menggenangi pakaian yang Ia kenakan, bukan dalam waktu yang singkat. Namun akhirnya Ia terlelap dengan menimbun dalam-dalam pada rongga hatinya sebuah lebam sakit. Ia tertidur dengan bekas kemerahan pada pucuk hidung dan payung matanya.
Ia adalah sang penyimpan misteri, penyimpan kepedihan, penyimpan kerinduan diatas ketidakpastian, penunggu selesainya durasi disamping panggung pementasan.
Setelah diasuh oleh mimpi, ia kembali terjaga. Hujan telah berhenti, digantikan Sang Busur Warna-warni. Ia tersenyum, dengan mengepalkan tangan ia berkata lirih. "Biarkan semesta menjadi saksi aku berucap ini, telah kulepaskan segenap rasa untukmu, kuterbangkan jauh menuju dunia yang tak pernah bertemu, kuhapuskan dengan sigap seluruh tentangmu dan perih yang pernah menjadi kawanku. Detik ini, aku melupakanmu" Kemudian kembali ia menangis, namun tanpa hujan, yang ada hanya pelangi. Ia merasa bebas.

Sepercik Salam

Teruntuk yang terselip
- Petani Dandelion -

Pagi mulai berkelayun
Sinarnya lambat menyelip  antara rimbunan daun
Dia bercengkrama dengan udara pagi
Tanah masih basah, hirupku mampu merasakan aromanya, indaaaaaah banget :)
Hai petani dandelion?
Bagaimana kabarmu kini? Kau masih subur kan? Alhamdulillah, semoga berkah dan karunia mengiringi setiap langkah dalam setapakmu. Aku disini juga sehat Alhamdulillah, pondasiku masih kuat untuk bertahan, Semoga saja masih mampu bertahan walau diterpa badai maupun topan
Kali ini entah apa yang ingin kusampaikan untukmu. Untukmu yang mungkin samar akan hadirku. Untukmu yang mungkin nyata akan hadirku. Untukmu yang ditunggu agen yang lahir dari pulau khayalan entah. Aneh pikirku.
Kali ini jemariku mencoba lincah menggores mengikuti setiap petunjuk peta dengan nalar mata angin dari otakku. Dengan perantara pena dan seutas kertas putih aku tumpahkan setiap inci bahkan setiap mili objek dalam zona anganku. Aneh bukan?
Hmm.. Kali ini aku hanya ingin menyampaikan sepercik salam. Sekedar itu. Entah kau menerimanya atau tidak. Seandainya kau menerima apakah kau akan membalasnya? Mungkin tidak, tapi mungkin iya. Salamku yang senantiasa tumbuh mengalun dari getaran dalam tubuhku, juga yang berakar dari polaku. Aaahhh, entah apa yang ada dipikiranku saat ini. Mungkin pikirkanku sedang bersekongkol denganmu. Jahat
Kau tahu? Banyak sekali cerita yang ingin kubagikan kepadamu. Namun, entah kekuatan super apa yang mampu membungkam mulutku hingga nyaris terkuci begitu rapat, sehingga banyak ucapku tak sempat terucap. Semua seakan lenyap hingga aku lupa darimana dan bagaimana aku harus memulai cerita. Semua nampak konyol dimataku, konyol sekali. Haaaaaa. Kau memang hebat dalam hal semacam ini.
Oh iya, kemarin untuk kesekian kalinya aku meniup peri-peri mungil itu. Mereka terbang, melayang, berputar, sepertinya mereka nampak gembira, sama seperti apa yang kurasa. Awalnya aku berharap salah diantara mereka mampu berlabuh di telapakmu. Tapi sepertinya angin tak berpihak kepada tiupanku. Peri-peri itu mendarat tak jauh dari tempatku melepasnya hehe. Tapi lain kali aku akan mencobanya lagi Aku akan meniupnya lebih kencang hingga mampu menembus beribu kilometer. Fiuuuuh
Tuan Petani, mungkin sekedar ini yang dapat kusampaikan, hanya sepercik salam dariku, dariku yang menunggu waktu. InsyaAllah.
Doa dan harap agar keselamatan senantiasa menyelimuti hari-hari panjangmu.

Salam,

Stronger, Gita :)

Assalamualaikum Wr.Wb

Hello my beloved readers? good night. How're you? Fine? Ummh me too
In this great time, I would like to write someting special for my funniest sista. I write this one after read your posted in your own blog, nice Gita :)
 Love is moodbooster when it comes in the right moment, but it's moodbreaker when it makes us broken. Simple. Love is a sacred thing, love is a beautiful thing, but if brings happiness. Conversely, if it's inviting tenderness and tears, then it brings disappointment. And this is what happens to you, Gita :)
I know that you just has been lost something special in your life, I know it's love, right?
I know, actually you want him to keep stay, stay there (your heart). I know that you want to lock shutly so he could not get out of there. You were crying when you remembered him, you were hurt when you stalked him, and you were injured when you saw him with another. I could see from your eyes
Gita, do you believe in miracle? Miracle of 'waiting' or 'moving on'. Yes, you just have two choice, waiting or moving on. And surely your answer is still waiting. Why are you waiting? Why are you still waiting if thers're thousands boys out of there, maybe one of them is better than him. I think, you're too love him much, so damn much.
Gita, now you are secret admirer (again) oh maybe not a secret anymore haha. Umm.. you're a princess that faitfully waiting until your prince come with his horse (ketupplak ketuplak )
If waiting is your choice, let's
wipe your tears. Look ahead, believe that everything's gonna be alright. STRONGER YAH :) AND BECOME THE STRONGEST GILR EVER.
Hug and kiss full of love for Gita {}

Menunggu.. Fajar

Kali ini subuh mendekapku lebih lama. Indraku merasakan sentuhan lebih lembut dari kelembutan yang biasanya. Subhanallah :) Ragaku merasakan getaran semesta yang ditiupkan bersama desiran kecil angin yang sibuk membangunkan embun, sementara embun masih lelap pada pucuk-pucuk daun yang beku.
Sedangkan mata ini masih tertuju menengok ke atas, mengada setiap inci oksigen. Ya, ternyata langit berbaik hati masih sedikit menyisahkan serakan-serakan bintang yang bekerja semalaman. Sementara dari kejauhan horizon, aku menunggu fajar datang dengan sinar emasnya yang akan dipancarkan diantara lintang bujur panorama. Aku ingin melihat sinar pertamanya, pasti indah bukan? Jadi, aku menunggunya, menunggu dan terus menunggu. Ya, sekali lagi menunggu.

Persimpangan #2

Sebuah jalan bercabang yang harus kita pilih kemana kita harus menuntun langkah
Pada jeda ini kita melepaskan ikatan yang sebenarnya tidak pernah ku ikatkan, oh mungkin pernah, namun semu. Sepert kabut, dari kejauhan Ia tampak nyata, namun saat Ia sampai di pelupuk mata, Ia begitu samar nyaris tak terlihat. Tau mengapa? Karena kabut itu telah menyatu

Persimpangan

Sejenak
Memaksa kata
Mati langkah
Sunyi suara
Tetap sejenak
Mengintip suatu jejak
Persimpangan
Mengayun langkah
Derap yang berbeda

Jika Suatu Saat Nanti

Jika suatu saat nanti, tak kau temukan nafas dalam hirup pahitku, hampa dalam derak matiku, darah dalam serak biruku, biarlah tulisan ini menjadi kawanmu
Jika suatu saat nanti, tak pula kau dengar canda dalam abstraku, tak pula kau lihat binaran pancaranku, tak pula kau rasakan untain sketsa aksaraku, biarlah pula tulisan ini menemanimu
Jika suatu saat nanti, kau temukan jejaku terhapus hujan, kau temukan asaku membentur karang, kau temukan sunyiku lepas bersama malam, biarlah jua tulisan ini mampu mengobati pilumu

Bayanganku Telah Mati

Aku berjalan menapaki masa lalu
Namun yang ku temukan hanya aku, ah bukan aku
itu hanya bayanganku
Ia tersungkur, badannya berlumur darah
Sementara kayu menancap tepat di jantungnya
Kemana dia? Kemana mereka?
Mengapa mereka membiarkanku,
maksudku bayanganku tertelan dalam dimensi
Aku menangis, pohon tertawa
Aku bertanya, ranting membisu
Aku menjerit, tanah melempar
Namun bunga membela
menyelip antara jemari
Mulai lempar senyum
Tak begitu redup, aku berdiri
dengan sayup kudendangkan
"Bayanganku telah mati"


Diantara Dandelion, Angin, dan Senja

Kali ini sebelum bulan menjemput, sebelum mentari beristirahat dengan tenang di peraduannya, lukisan senja diatas kanvas semesta yang digoreskan oleh kuas Tuhan tergantung rapi seperti biasanya. Hei, apakah kau juga melihat keindahan sama? Semoga saja begitu. Entah mengapa aku selalu menyukai senja dan segala apa yang ditawarkannya, mulai dari hempasan sayap yang dikibarkan oleh burung-burung, pancaran sinar surya diujung batas dengan semburat merah keunguan, dan yang paling aku suka adalah sayup-sayup desiran angin. Angin yang telah membawa dandelion pergi sebelum dapat ku lihat keindahannya, namun Ia tetap saja indah.
Hei kau, kali ini aku menitipkan salamku diantara benih-benih dandelion yang terbang tinggi, semoga saja angin mengantarnya dan membiarkannya berlabuh ditempat dimana kau berdiri saat ini. Apakah kau juga akan melakukan hal yang sama? Menitipkan salammu padaku lewat benih dandelion? Hehe tak ada alasan untuk melakukan hal itu.
Kau tak mengerti dan memang tak perlu kau mengerti. Kau tau? Saat ini aku berusaha menjadi dandelion. Bukan merekahnya yang membuat Ia indah, tapi manakala angin bertiup yang menerbangkan benih-benihnya. Bukan "rasa" ini yang indah, tapi manakala "rasa" ini bertiup pergi menuju entah kemana, dimana, dan dengan siapa Ia akan berlabuh dan menyatu.
Diantara dandelion, diantara angin, diantara senja, temukan doaku

Senja ini...

Senja ini
Aku menatapmu
Dibawah merah
Dipayung Jingga
Kubah

Senja ini
Aku mendengarmu
Sayup-sayup suara
Butiran hujan
Jejak taman

Senja ini
Aku menantimu
Dicengkam memori
Berlari, lalu kembali

Senja ini
Aku mulai sepi
Hampa larut dalam puisi
Selimuti nadi
Tiada lagi

Jika esok
Atau esoknya lagi
Aku tiada disini
Berarti aku telah pergi
Dihisap pelangi
Kemudian hilang
Kembali setelah hujan

Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates