Tampilkan postingan dengan label Sederhana Karyaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sederhana Karyaku. Tampilkan semua postingan

Ini tulisan apa sih -_-

"Kenapa"
"Patah hati mbak cantik :')"
"Dia yang mematahkannya, atau kamu yang membuatnya patah dengan sendirinya?"
"Dia yang mematahkan, tanpa dia sadari"
"Berarti bukan salah dia kan, dia kan ngga sadar sama yang dia lakukan"
"Iya, sakit ya"

Kamu terlalu sibuk sama sakitmu, jangan terlalu kamu rawat, bahaya kalau menjalar ke seluruh tubuh.
Aku buka klinik namanya klinik kratak, kalau kamu mau dateng aja. Letaknya di cahaya matahari terbit, cari tempat yang warnanya paling merah tembaga. Kalau kamu bingung kesana naik apa, telfon aku, nanti aku kirim cacing alaska atau elangnya indositit buat jemput kamu. Kamu juga bisa naik layang-layang tapi hati-hati jaga keseimbangan, soalnya senarnya lumayan rapuh kebanyakan digerus angin. Klinik ini bekerja sukarela tanpa dipungut biaya, kecuali kalau kamu mau ngasih mereka gulali atau permen kapas mereka mau nerima tapi jangan banyak-banyak soalnya kalau terlalu banyak makan sesuatu yang manis imbasnya bakal nangis

Melintasi Atmosfer (Eits, pake imajinasi ya)

Secara tiba-tiba saja kubuat kamarku menjadi lebih gelap dan semakin gelap. Kemudian lenyap.
Kupasang radar dan kuhantarkan signal. Yes! Berhasil. Gemuruh datang lalu ketukan pintu dihalau saja. Semua terasa bergerak,bergoyang, berputar, berputar, dan berputar. Hingga akhirnya… kubuka mata dan kulihat sebuah lampu bohlam terdiam di tanganku.
Ini pertanda, aku bukan lagi di dunia nyata, ini di dunia imajinasiku. Kulihat jam pukul 15.00, aku bergerak ke jendela kamar lalu kubukanya, dan yes! langit gelap, artinya disini sudah malam! Kembali ke ranjang, kupasang radar kedua. Bohlam menyala-nyala. Seetttt! Kubuka mata dan kini aku punya sayap walau tak seberapa besar. Aku siap berpetualang.
Aku terbang melesat menembus udara menuju langit atas.. Ada rasa takut, kulempar saja jauh-jauh.

10 km kulewati, berarti aku setara dengan Everest, gunung tertinggi dalam sejarah. Dunia dibawahku benar-benar menjadi lebih kerdil haha.  Semakin naik ke atas, suhu semakin turun. Setiap kenaikan 100m suhu berkurang 0,61 derajat. Sadar, aku di Troposfer.  Yuhuuuu aku lambaikan tangan ke bawah lalu berteriak girang “Aku baru sampai di Troposfer, kalian jangan kangen aku ya!!!!” Berbalik dan melanjut.

Sampai pada 15 km aku masih belum lelah. Angin bertiup lumayan kencang. Aku duduk sejenak diatas awan Cirrus, melihat ke atas, ternyata perjalananku masih sangat jauh. Bergegas beranjak menuju stratopause, lembar yang memisahkan stratosfer yang sedang aku diami ini dengan lembar sesudahnya. Saat aku beranjak aku melihat sebuah benda terbang corak warna-warni, nah aku amati dari jauh. Gerakannya cenderung stabil. Balon cuaca! Yapss akhirnya aku ingat namanya!! Ah, tidak membuang waktu, lanjut terbaaaang.

Mesosfer, kini aku berada disini. Aku bertemu dengan penangkap meteor, dia duduk pada awan noctilucent. Dia bertubuh besar, berkulit gelap, kepala botak, dan berotot. Wowwh emejing! Jadi karena aku penasaran, aku hampiri dia lalu berkata “Hai ganteng, main yuk”. Haha kalian percaya aku berkata seperti itu? Yang benar saja! Tidak mungkin lah. Sejujurnya aku tidak mengucapkan apapun, ya mungkin aku takut, dia terlalu macho, terlalu lakik ! Dia menoleh ke arahku dengan sorot tajam, sekejap membalikkan badan dan membentangkan kedua tangannya. Happp!! Sebuat meteor terperangkap padanya dan blaaarrr, meteor itu hancur. Jelas aku tercengang. Sebuah kesimpulan baru, dia bukan penangkap meteor tapi penghancur meteor. Setelah puas bengong, aku tundukkan kepala lalu pergi ke jenjang berikutnya

Pada lembar keempat, lembar yang sangaaaaaat kusuka. Disini ada hijau, ungu, merah, jingga, biru, putih berbaur menjadi satu saling menumpuk dan menciptakan orkestra warna dengan gradasi yang memukau. Sempurna. Kuputarkan tubuhku lalu dengan sengaja aku menari dalam ketukan. Satu dua tiga. Lompat, berlari, berputar, bergerak… menari.. dengan tempo dinamis aku menari diiriingi suara gelombang radio, entah darimana asalnya, dari imajinasi?
Andai saja aku kemari membawa teman, pasti lebih menyenangkan. Ah tapi toh kadangkala kita butuh waktu sendiri kan, dimana hanya ada kita, dan… zona imajinasi kita.
Merasa puas. Aku meninggalkan aurora itu, melesat keatas pada batas yang sering orang-orang namai Ionosfer. Kalian tau apa artinya? Tinggal satu langkah lagi! Ya satu langkah lagi aku sampai.

10.000 km!!! Aku sampai disini. Eksosfer!
Rasi bintang, aku sampai padamu. 88 rasi bintang kujumpai dengan jarak sebatas lengan. Rasi Sang Pemburu, yang terangnya terlihat pada equator langit dan terlihat diseluruh jagad. Orion. Aku melompat pada bintang-bintang diantaranya, hingga aku merajut rasi diantara Sagittarius, Ophiuchus, Li bra, dan Lupus, terbentuk Scorpio.  Belum puas aku kembali menjelajah angkasa, itu adalah Gemini yang berarti “kembar”. Rasi ini adalah bagian dari langit musim dingin, berada antara Taurus  dan Cancer. Kulihat Cancer berukuran kecil dan redup, dan menurutku ini tidak menyerupai kepiting. Tapi sebuah nyamuk, ah sepertinya semua rasi disini berbentuk nyamuk. Kemudian aku berkeliling lagi, lalu aku bertemu dengan Sirius, bintang yang paling terang dintara yang paling terang. Lebih terang dari Canopus atau Vega. Aku bersinggah didekatnya, dia benar-benar terang, seharusnya aku membawa kacamata kuda warna hitam agar aku tidak memercingkan mata. Di sebelah kanan aku temukan Arcturus, bintang paling tua yang bertengger di langit, dia juga tidak kalah indah. Semuanya indah, semuanya nampak sempurna. Aku hirup udara dalam-dalam. Aku berada di Milky Way. Aku merasa benar-benar hidup disini, melihat secara langsung bagaimana alam ini memperlihatkan pesona kenampakan yang tak bisa dituliskan. Kali ini aku merasakan kebebasan yang benar-benar bebas. Haaaaaaaaaaaaa!! Teriak sekeras-kerasnya, menangis, tertawa, bergerak lepas tanpa takut seseorang tahu kebdohan kita!
Puas bercinta dengan bintang, sekarang menuju planet. Mars, planet yang ingin aku kunjungi pertama. Disana aku disambut oleh Phobos dan Deimos. Ciri-ciri mereka, berbadan tinggi, sedikit kurus, mereka sama-sama baik, dengan senang hati mempersilahkan aku memasuki Planet Merah ini. Sebenarnya aku berharap bertemu dengan alien, wuhuuu, soalnya aku penasaran gimana wajah mereka tapi sayangnya aku belum beruntung, aliennya lagi cuti, mungkin mereka capek jadi bahan gosipan makhluk bumi tentang ufo mereka yang bias nyasar ke bumi. Hmm langsung aku pergi ke Jupiter, planet terbesar.

Aku terbang menuju Jupiter. Saat aku terbang, tiba-tiba sayapku mulai memudar dan hilang dalam hitungan detik. Aku terjatuuh dari ketinggihan 10.000 km, turun cepat melewati  termosfer, Mesosfer, Stratosfer, dan Troposfer. Aku pejamkan mata, saat kubuka aku sudah berada di ranjang kamarku. Aku tercengang, kemudian aku berlari ke jendela, hari sudah pagi, matahari sudah memercikkan merahnya dari titik horizontal. Ah semua ternyata hanya mimpi. Kulipat selimutku dan sebuah bohlam terselip diantaranya. Aku tersenyum, segera kupasang radar dan kukirim signal lagi. Namun tidak terjadi apa-apa. Kucoba lagi, namun tetap tidak ada hasil. Ya, mungkin aku harus mengumpulkan kekuatan imajinasi gilaku lagi.

Suatu saat aku akan melintasi atmosfer untuk kedua kalinya, tenang saja kalian akan kuajak ikut. Tapi ingat! IMAJINASIIII

Memasung Dendam

Mematung
Sendiri ku tertegun

Waktu terbilang, satu per satu detik bergulir, kemudian memudar beralih

Keheningan memanjang..

Apa lagi yang kamu inginkan?
Melihatku mati tercekik,
membusuk, sejurus jadi bangkai?

Kedendaman terus memanjang..

Sementara waktu berjalan, tak mau dan tak sudi menunggu, sakit tak pudar beralih

Sendiri ku tertegun
Memasung


Tretes dibawah rintik hujan
30 Januari 2014

Ai wa tokidoki itaidesu

Ai wa tokidoki itaidesu
*terinspirasi dari Tatag, Juple, Pijun, Tince, Mirandul

Cinta adalah  tiupan seruling penggungah jiwa (Jalaludin Rumi)
Cinta adalah sayap-sayap kehidupan (Khalil Gibran)
Cinta adalah tatapan mesra Sang Pemilik Waktu (Rabiah Al-Adawiyah)

Bagiku cinta adalah misteri, juga sebuah kekuatan yang paling dahsyat, barangkali lebih dari sekadar luapan emosi yang tinggi. Datang sekejap melalui rasa yang menghujam dalam jiwa. Cinta juga agen pengubah, mengubah yang jelek menjadi baik, yang pemberani menjadi gugup, yang kasar menjadi lembut, yang keras menjadi lunak, segalanya terlihat indah dan sempurna. Tapi hukum alam selalu mempunyai dua sisi berlawanan. Ada awal pasti ada akhir, ada hitam ada putih, ada hujan ada kemarau, dan ada baik ada buruk. Dan disini kita akan membahas sisi yang dianggap “buruk” dari cinta.

Coba kita tengok mereka yang sedang merindu. Siapa yang bisa menghianati rindu? Seperti kerinduan daun pada hujan. Ia tahu hujan pasti akan turun, namun Ia harus menunggu kemarau untuk pergi dan tidak menutup kemungkinan saat hujan itu datang, daun sudah kering dan jatuh berurai lalu dihantam angin, tak sempat bertemu hujan walau hanya mengatakan “aku merindukanmu”. Sama seperti orang yang mencinta, demi kerinduannya ia tegar menunggu seberapa lamanya walau tahu saat bertemu nanti konsep Allah dapat tak sejalan dengan konsepnya. Dan nasibnya akan sama seperti daun yang rindunya tak menemui titik terang. Adalagi kisah tentang sepasang hati yang saling mendamba dihadapkan benteng pemisah yang menjulang hingga tak terlihat dimana puncaknya atau dipisahkan jurang yang dasarnya terdapat api yang sekali menyentuh akan menghanguskan. Pada akhirnya, rindu menjadi alasan mengapa jatuhnya air mata.

 Admiring someone, dimana kita hanya menjadi pengagum rahasianya, dimana kita hanya dapat melihatnya sebatas punggung, karena ia tak pernah menengok apalagi tersenyum menyambut hadirnya perasaan yang carut marut ini. Mungkin orang yang kita kagumi malah mengagumi orang lain yang memang jauh lebih baik dari diri kita. Atau yang lebih parah dia sering menceritakan kekagumannya kepada orang lain kepada kita. Bagai gumpalan benang kusut sekusut-kusutnya yang membuat dada kita semakin sesak hingga lahan oksigen semakin menyempit. Tapi bagaimana lagi? Hati diberi kebebasan untuk memilih dan ia tak boleh disalahkan karena kadang kita tidak tahu bagaimana cikal bakal perasaan yang menyiksa ini. Karena cinta sendiri tak berumus yang angkanya dapat kita tentukan. Itulah keajaiban. Saya kagum dengan secret admirer karena suatu kehebatan dapat menyimpan dalam-dalam perasaanya dengan waktu yang begitu lama, terbiasa dengan rasa sakit yang datang pergi silih berganti, Namun tetap saja mengais harapan, menuai kesengsaraan.

William Shakespeare dalam salah satu bukunya mengatakan “cinta seringkali disandingkan dengan nafsu, padahal cinta dan nafsu tak akan pernah bersentuhan”. Nah saya sangat setuju dengan pernyataan ini. Bagaimana bisa cinta disandingkan dengan nafsu sementara mereka mempunyai hakikat yang berbeda? Cinta hakikatnya suci sangat jauh berbeda dengan nafsu. Mereka bagai minyak dan air, walau ditempatkan dalam satu wadah dalam waktu yang sangat lama tidak akan pernah menyatu sampai kapanpun walaupun kita membolak-balikan, menjungkirkan, tetap saja penyatuan itu mustahil. Lalu bagaimana dengan rasa cinta yang tulus dibalas nafsu yang jahil? Air susu dibalas dengan air comberan. Saya yakin rasanya pasti sakit. Hati kita seakan diremas dihancurkan berkeping, dituip jauh, lalu dengan susah payah kita akan memungut kepingan itu dan mencoba merajutnya kembali, pada akhirnya hati itu tak akan sesempurna dulu.
Mirandul pernah berkata “hati ibarat tembok, jika kita paku lalu kita cabut pakunya, lihat ia tetap menyisakan lubang”. Ya, saat kita menyakiti seseorang lalu kita meminta maaf tetap saja ia masih menyisahkan ‘bekas’

Ya, itulah sedikit fakta dari sisi ‘buruk’ cinta yang sudah sering kita jumpai karena memang sudah menjamur disana-sini. Bagai terperosok di lumpur hisap, semakin merontah bergerak akan semakin terhisap, kita harus tenang memikirkan cara agar dapat keluar darisana, memanggil pertolongan. Sama halnya, jika kita semakin bersedih kita semakin terhisap oleh perasaan kacau balau, kita harus menenangkan diri, mencari pertolongan lewat doa yang mahapanjang. Saya yakin dengan happy ending, pasti semua berakhir indah. Jika sekarang tidak indah, berarti cerita belum berakhir. Allah selalu bijak mengarahkan kita termasuk masalah perasaan, Dia tak pernah salah, hanya kita harus mencari jawabnya.

Ai wa tokidoki itaidesu (terkadang cinta itu menyakitkan)

Lantun

Setiap jangka yang terlangkah adalah cerita yang kujaga, yang kurasa, terbasah oleh silogis kata, yang bagiku seperti terpasung dalam tanda pena dengan jarak dan koma


Sementara doa masih memejam, harap dia akan bermuara pada pucuk langit, pucuk semesta, dan bertemu dengan Sang Maha Segala, segala sukma, segala raga, kau merasakannya kan?


Kini aku berpijak pada awan jingga, kemarilah akan kuajak kau terbang menebus mega. Akan kuajarkan kau bagaimana membiaskan pelangi. Kau seorang pemimpi kan? Bagiku iya, pemimpi yang dengan nakal masuk dalam mimpi, mimpiku sendiri


Dan sejenak kita akan saling bicara dalam bisu, mendengar dalam tuli, dan bergerak dalam isyarat
Dan sekejap kita akan membodohkan diri, menertawakan sendiri dalam tawa yang menerka tanya, entah apa jawabnya

Gerimis


Untuk sekian waktunya, aku mengeja gerimis. Kutarik segala angin, pada lembar kabut


Entah apa maksudnya, gerimis selalu saja menghantarkan pada narasi. Sebuah definisi sederhana tentang sisi putih kehidupan.


Dalam rangkaian gerimis kutemukan bercak-bercak kenangan, baik tentang persahabatan, persaudaraan, kasih sayang, bahkan cinta. Untuk siapapun itu.


Aroma tanah, aroma basah, disuguhkan dalam menu penghirupan. Kilauan daun, tetesan embun, pun disuguhkan dalam menu pengelihatan. Balutan angin, runtuhan air, jua disuguhkan dalam menu perabaan.

Keep calm and enjoy the rain!! 

Lepas!

Hanya seberkas tulisan
Yang dengan sengaja kugores untukmu
Untukmu perempuan hebat
"Hafizah Sururul Nur Rakhamawati"
Halilintar menyambar bak akar serabut melukis langit
Wajah perempuan itu merah padam, kemarahannya tersekat di tenggorokannya sendiri, menerima  kembali dengan pahit genjatan penghianatan dari sang pujangga, entah sudah keberapa kalinya. Ia merenung sejenak, kembali memaksa otaknya menayangkan kenangan-kenangan masa silam. Tak begitu lama kemudian Ia mulai menangis bersamaan dengan rintik-rintik hujan yang dengan sombong mulai menguasai dataran lereng gunung itu. Dia sesenggukan, air matanya menggenangi pakaian yang Ia kenakan, bukan dalam waktu yang singkat. Namun akhirnya Ia terlelap dengan menimbun dalam-dalam pada rongga hatinya sebuah lebam sakit. Ia tertidur dengan bekas kemerahan pada pucuk hidung dan payung matanya.
Ia adalah sang penyimpan misteri, penyimpan kepedihan, penyimpan kerinduan diatas ketidakpastian, penunggu selesainya durasi disamping panggung pementasan.
Setelah diasuh oleh mimpi, ia kembali terjaga. Hujan telah berhenti, digantikan Sang Busur Warna-warni. Ia tersenyum, dengan mengepalkan tangan ia berkata lirih. "Biarkan semesta menjadi saksi aku berucap ini, telah kulepaskan segenap rasa untukmu, kuterbangkan jauh menuju dunia yang tak pernah bertemu, kuhapuskan dengan sigap seluruh tentangmu dan perih yang pernah menjadi kawanku. Detik ini, aku melupakanmu" Kemudian kembali ia menangis, namun tanpa hujan, yang ada hanya pelangi. Ia merasa bebas.

Bawang Merah ~

Bukankah dibutuhkan kesatuan dalam tali persahabatan
Yang menjelma ikatan, lalu rangkulan satu kebatinan
Lantas jika kesatuan itu perlahan renggang bahkan terpisah
Hanya karena tarikan dari jari-jari manis
Apakah persahabatan itu masih berbekas?

Sesungging senyum kuhadapkan kepada layar persegi panjang. Senyap. Yang ada hanya nada tekanan keyboard yang kulantunkan lambat. Sesekali kulihat sang penunjuk waktu, jarum pendek di angka enam, jarum panjang di angka sebelas, masih senja, matahari sudah terjatuh, kasihan.
Ohya perkenalkan, aku adalah bawang merah, perempuan antagonis yang dengan tangan-tanganku berkuasa merenggut dan menyalahkan tangis, meluapkan emosi dengan sorot tajam yang membanting setiap kesemangatan, sikapku menguras segalalnya termasuk cinta, yang lebih penting persahabatan.
Ya memang, lantas apa masalahnya? Bak halilintar membelah bumi, hanya dengan sedetik sorot mata saya bisa menggulingkan bahkan memporak-porandakan seseorang. Tapi maaf, hal itu sama sekali tidak saya sadari. Maaf beribu maaf wahai bawang putih yang menitihkan air mata yang air itu sendiri tidak bisa menembus dinding keharuan saya. Sama sekali. Sementara dibalik air mata terdapat air keras yang kau guyurkan berkali-kali bahkan dihadapanku sang bawang merah. Jangan mengelak. Ah saya memang terlihat jahat, atau mungkin anda yang mencoba menderita dihadapan mereka.
Saya meminum setiap anggapan dari deru ungkapan racun. Tapi nyantai saja, saya tidak gentar. Sebenarnya saya bisa memutar cerita fiksi ini, saya bisa menjadi lebih berpura-pura menderita dan berubah menjelma bawang putih, tapi sayangnya seorang seperti saya tidak akan melakukannya. Hal aneh. Teruslah.. teruslah seperti itu, kelelahan pasti mengikuti kita, teruslah.. dimana akhir naskah ini, teruslah.. menelan ludah tipuan kita, ya, teruslah.. teruslah

Percaya pada satu keyakinan
Dimana hitam akan terlihat hitam
Dan putih akan terlihat putih
Mari berteriak girang untuk kebenaran yang disingkirkan!
Salam kejahatan


- Titin as Bawang Merah -

Bercerai dengan Angka-16


Assalamualaikum Wr. Wb

Hilang jam diganti hari
Hilang hari diganti bulan
Hilang bulan pun diganti tahun
Bulan perak-peranda dilingkari bintang nampaknya masih memberi pengharapan
Hari ini 24 Oktober 2013
Sampailah masanya aku akan bercerai dengan umurku yang ke-16
Angin saling bertukar, menggoyangkan daun terlelap dalamnya
Terkenangku kepada apa yang kutinggal dan tidak ada harapan untuk kembali
Aku terbenam dalam bayangku sendiri
Sama sekali tidak kusesalkan
Tentang sebatang hiruk pikuknya hidup
Allah Ya Rabb
Di angkaku yang ke-17
Tidak banyak pinta yang kuharap dari Rahmat-Mu
Tolong, jangan ambil mereka yang kusayang dan menyayangku :)
Sungguh sangat lebih dari cukup.. Sungguhlah itu
                                                                   24 Oktober 2013, Christine Ayu Nurchayanti

 ******

Oktober, bulan dimana berkah datang silih berganti
Di bulan ini jua, rekan sekaligus sahabat yang kuanggap sebagai bagian dari keluarga bahkan tubuhku menjelma seorang bayi sekitar 17 atau 18 tahun lalu
21 Oktober 1996 : Fachriyah Oktaviani Rahayu. Seorang yang biasa dianggap bunda oleh kami, dengan sifat dan sikap keibuan yang khas dengan aksen cerewet yang selalu membuka tangan untuk siapapun yang ingin merasakan pelukan dari tangannya yang lumayan berisi. Happy Birthday Gembulku sayang :* ({})

22 Oktober 1995 : Rizqi Rangga Diputra. The killer partner ever, the best leader in the world. Dibalik karakternya yang keras dan kadang menyeramkan, Ia menyimpan banyak sekali kelucuan yang tidak pernah terlintas dalam benak kami sebelumnya. Lahir dengan kecintaan terhadap dunia seni dan sastra. Dialah yang mengerti benar arti sebuah pengorbanan, perjuangan, dan kemenangan sejati. Happy Birthday Upin!
23 Oktober 1995 : Hafizah Sururul Nur Rakhmawati. Dia ada perempuan hebat, tahu benar nilai sebuah pengharapan dalam penantian entah dimana garis ujungnya. Jelas merasakan pahit yang pahitnya melebihi pahit apapun, namun Ia masih bias tersenyum. Roman kesedihannya jelas, namun lebih jelas senyum kegembiraannya. Happy Birthday Mbapis :***

Dan closingnya ada manusia aneh yang lahir yaitu saya sendiri. Ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di masa awal jabatan saya sebagai anaknya ayah dan ibu ke-17 ini, saya dipertemukan dengan mereka yang tersayang :) Sulit dirasakan dan tambah sulit diutarakan dan sangat sulit dituliskan, karena sebagus apapun saya menulisnya tidak akan bias mencerminkan kebagusan yang sesungguhnya.

And finally, terimakasih kepada siapapun yang turut serta menyentuh dan menyelami hidup yang serba tidak pasti ini, yang tidak hendak lekang dalam memori saya, sampai kapanpun, sampai saya jadi nenek-nenek unyuk sekalipun.  Terimakasih pula atas ucapan selamat dan doanya, semoga Rahmat dan Hidayah Allah SWT senantiasa mengiringi setiap pelayaran hidup kita semuanya :)

Terimakasih semuanyaaaa..
Allah SWT
Rasulullah SAW
Ibu – Ayah – Mas
Guru-guru
Keluarga Besar
Teater KITA
Boloh ( Ayuk – Sholeh – Tonyul – Bobi )
Twist dan semua sahabat-sahabat saya
Semua yang mengenal saya

Saya telah bercerai dengan angka 16 :D

Fandi :)



rosa :)
Bella :)
Icha :)
Juple :D

Mbapis
mbapiis
Ibuk :)
Tonyul :)
Masang :)
Juple

And many more :)

Menunggu.. Fajar

Kali ini subuh mendekapku lebih lama. Indraku merasakan sentuhan lebih lembut dari kelembutan yang biasanya. Subhanallah :) Ragaku merasakan getaran semesta yang ditiupkan bersama desiran kecil angin yang sibuk membangunkan embun, sementara embun masih lelap pada pucuk-pucuk daun yang beku.
Sedangkan mata ini masih tertuju menengok ke atas, mengada setiap inci oksigen. Ya, ternyata langit berbaik hati masih sedikit menyisahkan serakan-serakan bintang yang bekerja semalaman. Sementara dari kejauhan horizon, aku menunggu fajar datang dengan sinar emasnya yang akan dipancarkan diantara lintang bujur panorama. Aku ingin melihat sinar pertamanya, pasti indah bukan? Jadi, aku menunggunya, menunggu dan terus menunggu. Ya, sekali lagi menunggu.

Kratak! ( Buat Juple )

Entah apa yang saya tulis. Cerpen? Pantun? Puisi? Ah Whatever.
Yah seperti biasa ke-error-an menderai jiwa saya yang surealis ini. Sebuah goresan aneh yang saya persembahkan for my unyues littlesist (whaaat? Littlee).
Yaps, this scratach for you juple :) Hope you’ll smile or laugh after read this one, an error text ever in my cute blog, enjoy :D

KRATAK
Kratak oh kratak
Sekratak jiwaku yang kian mengkratak
Dengan sejuta kratak dan gugusan terkratak
Kratakku yang menguak kekratakan
Tentang krataknya hatiku yang tak tak
Terbang diambang kratak
Berlari bersama kepingan kratak
Pergi direnggut krataknya kratak
Kratak berderai
Lebur berkratak
Kratakku semakin kratak
Saat dikratak desiran kratak
Hingga denyut kratak begitu krataknya
Kamu disana. Oh kratak
Rautmu. Oh kratak
Senyumu. Oh kratak
Tuturmu. Oh kratak
Tingkahmu. Oh kratak
Candamu. Oh kratak
Diammu. Oh kratak
Pehapemu. Oh Ke ra tak
Kratak? Puas? Kratak?
Kaukratakkan aku menuju kratak
Kaukratakan aku jatuh terkratak
Kaukrtakan aku terlempar terkratak
Mengkratakkan ketulusan
Miris. Ah kratak
Apalah arti kekratakan ini
Jika kratakku bukan kratakmu
Harap kratak kratak bersama kratak J
Bye kratak. Kratak pengen move on .
Makaseeeeh *kratak*
Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates