Ini Saya

Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum Wr. Wb

Halo lohaaa.
Ini tulisan iseng2 ditulis pas bulan udah bertengger nyantai di langit, pas dengerin lagu BCL juga, hihi
Jam putih dengan aksen merah yang menggantung di atas televisi rumah menunjukkan pukul 20. 27. Hoaaamm, sepertinya udah saatnya bobok cantik, tapi males ah. Ini modem hari ini masa aktifnya udah terakhir  -_- hufet ya. But noprob noprob. Ah, prolognya geje bangets
Well guys, sebenernya ini tulisan harusnya udah nempel di blog ini sejak awal. Tapi hehe, berhubung saya terlalu kreatif sampai lupa. Oke, disini cuman pengen ngenalin diri kok, sederhana tapi luar biasa. Mungkin saya terlalu luar biasa. Luar biasa bodohnya. Bodoh? Jika saya menghujat diri seperti itu, sama halnya saya menghujat Allah. Semua lahir dengan kepintaran, betul? Manusia adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna, diberkahi akal dan pikiran. Jadi, apakah saya bodoh? Silahkan readers yang menilai.
Oke well, nama saya Christine Ayu Nurchayanti, tinggal dan dibesarkan oleh super famili :) Mempunyai sejuta mimpi dan percaya akan mimpi2 tersebut, melangkah dan ingin terus melangkah, mendaki gunung lewati lembah kayak ninja hatori, hobinya koprol cantik kalo nggabisa koprol kece pun jadi, bangga akan gelar yang telah dipertahankan selama bertahun-tahun yaitu "Jomblo", walaupun banyak dari mereka yang ngebully akan gelar tersebut, saya tetap bangga. Trimakasih. Hmm apa lagi ya? Saya juga tidak tahu apakah saya dikelompokkan dalam gadis labil, mungkin iya mungkin tidak, ah tapi apa mungkin? Terus, oh ya saya paling anti dg yang namanya alay, apalagi alay di status fb atau di twitter mungkin, apalagi ada cowok yang ganti huruf "s" jadi "c". Kesannya sok imut meeen "kacian", "chayank". Iyuh plis boys, itu yeyeks sekali. Tapi sejujurnya tidak dipungkiri bahwa saya juga pernah alay seperti mereka, tapi tenang tenang tenang saya sudah tobat kok, tenang. Jadi readers tidak usah khawatir matanya jadi min atau katarak atau mungkin kebutaan permanen gara2 lihat tulisan alay yang saya pajang.
Blog ini masih baru, masih hangat. Saya tidak tahu ada yang pernah lihat atau tidak, karena saya benar2 tidak mempromosikan atau sejenisnya. Mungkin kalau awal2 gini emang kurang bermanfaat, tapi InsyaAllah saya usahakan untuk entri2 selanjutnya akan jauh lebih bermanfaat bagi kita, minimal untuk saya sendiri.
Tins Dandelion? Kenapa Tins Dandelion? Tins itu nama saya, nama pena mungkin. Mungkin. Dandelion? Tahu kan yang namanya dandelion? Bunga terindah di dunia. Melihat benihnya terbang diterpa angin, melayang.. melayang.. melayang.. hingga Ia hilang, pergi, jauh, dan mendarat menjadi jiwa baru.

Sepertinya saya terlalu banyak berkicau, baiklah disudahi dulu, untuk lebih lanjut silahkan buka fb saya Christine Ayu Nurchayanti atau twitter @nur_chayanti. Thanks. Love you guys :) :* ({})

Tins :)

Great Dandelion :)

Puisi - Elang Laut ( Asrul Sani )

Elang Laut

Ada elang laut terbang
Senja hari
Antara jingga dan merah
Surya hendak turun,
Pergi ke sarangnya.
Apakah iya tahu juga,
Bahwa panggilan cinta
Tiada ditahan kabut
Yang menguap dipagi hari?
Bunyinya menguak suram
Lambat – lambat
Mendekat, ke atas runyam
Karang putih,
Makin nyata
Sekali ini jamu dan keringat
Tiada akan punya daya
Tapi topan tiada mau
Dan menghembus ke alam luas.
Jatuh elang laut
Ke air biru, tenggelam
Dan tiada timbul lagi.
Rumahnya di gunung kelabu
Akan terus sunyi,
Satu – satu akan jatuh membangkai
Ke bumi, bayi – bayi kecil tiada
Bersuara.
( Tongak 1, 1987 )
Asrul Sani

Persembahan untuk "Perempuan Telaga Duka"

Tulisan lama sih, jamnnya Tins kelas 10 dan masih imut-imutnya gitu bueweheheh. Berisi tentang wajah-wajah dibalik perempuan tlaga duka, keluarga super hebat, Teater KITA SMAN 1 Pandaan :'). Hehe Tins kok jadi kangen ya sama mbak-mbak mas-mas yang super hebat, Tulisan ini saya persembahkan untuk kalian. Enjoy! :')



DIBALIK WAJAH-WAJAH “PEREMPUAN TELAGA DUKA (VERSI “KITA” SMANDA)”.
                Perempuan Telaga Duka.. Sebuah judul drama yang ceritanya benar-benar dramatis nan eksotis. Original naskah ini diunduh oleh Hafizah dari sebuah situs internet. Adaptasi dari cerpennya Kang Lian Kagura. Naskah ini diaransemen lagi oleh teater KITA smanda sehingga berbentuk sedemikian rupa dan dimainkan secara apik dan memukau oleh para pemainnya, ditambah lagi aransemen musiknya yang mampu membuat penonton terbawa alunan melodinya. Dilombakan saat Bulan Bahasa dan Sastra yang dilaksanakan di Universitas Negeri Malang tepat tanggal 27 Oktober 2011 kemarin.
********************************          
Dibalik pergelaran pentasnya, “Perempuan Telaga Duka” menyimpan berjuta bingkisan manis tak terlupa bagi KITA..  Mulai dari canda, tawa, letih, tangis, haru, semua melebur jadi satu membentuk untaian kisah yang terukir dengan indah di dalam gerai tabir yang masih tersusun rapi disetiap helai kenangannya..
********************************          
Aku masih ingat saat pertama kali Paijo mengatakan “Retno, aku mencintaimu” (dengan logat dan ekspresi datarnya yang mengoyak perut), belum lagi saat Retno mengatakan “Ngguyu o tala ngga..”, ditambah lagi dengan kekocakan Mbak.Ovie dan Mas.Fuad laksana Tom and Jerry.. Benar-benar menyisipkan kesan pertama yang demikian indahnya.
********************************
Okelah.. tanpa banyak bicara lagi mari yuuk kita telusuri wajah-wajah dibalik pergelaran “Perempuan Telaga Duka”..
Yang Pertama yaitu pelatih KITA tercinta.. Mari kita sambut inilah Mbaaaak.Dyah (teng teng teng).. Inilah sosok yang sangat berperan penting dalam pergelaran ini… Seseorang yang berhati mulia ini (dilarang GR ya mbak) telah menyumbangkan banyak sekali pembelajaran yang sangaaaattt berarti.. (Makasih yaa Mbk.Dyah). Walaupun kadangkala beliau marah, kesal, jengkel, de el el, tapi itulah bentuk cintanya kpd KITA.. beliaulah inspirasi KITA… beliaulah motivator KITA.. Sekali lagi makasih ya Mbk.Dyah atas semuanya…  I U Pull Mb.Dyah.. Engkaulah PELANGI yang menyinari KITA. J
********************************          
Selanjutnya.. mari yuk kita kupas para pemainnya..
Dilla            : Cewek berparas manis ini berperan sebagai pelaku utama “Retno”. Cewek yang dikabarkan terlibat cinlok dengan salah satu crew musik ini (ihiiirr.. mas penelope) telah menghibur penonton dengan penampilannya yang memukau (prok..prok..prok..). Selamat ya.. ^^

Eka             : Dialah penghuni Gg.5 Pecalukan, wajahnya yang ga kalah cute dari Justin Timberlake (gubrak) dan suaranya ga kalah aduhai dari Afgan (GEDUBRAK.. lebih parah dari gubrak) telah sukses memainkan perannya sebagai Widodo. Cowok rocker yang berpostur tubuh tegap ini punya sebuah kata kebangsaannya tersendiri… “MBELEDUS”.. Cowok inilah yang paling sering mengatakan kata penghinaan “BELUNG” (awaass kau…!! Dasar kebo).

Rangga     : Wajah datar.. (-.-) mau ketawa, nangis, marah, ekspresinya mah ga pernah berubah (permaken ae wajahmu iku ngga.. hoho). Kerapkali lawan mainnya (Retno) tertawa saat menatap wajahnya. Yups.. cowok yang berasal dari Gajarjo ini juga berperan sebagai pelaku utama “Paijo”, sekaligus menjabat sbg Pak Waketu… wehehe..

Mb.Amel : Wanita paling imut seantero jagad dan berpostur bak gitar spanyol ini ( glodak!!! ) berperan sebagai “Ponirah” alias ibu dari Paijo. Emang sih kalo dilihat2 wajahnya yang smakin tdk terarah benar2 mirip dengan mak2, jadi ga salah kalo berperan kayak gitu (peace mbak). Ia mampu mengguncangkan UM dengan goyangan mautnya.. digooyaangg maaanngg…. Hehe..

Mb.Cin     : Kalo yang ini nih.. calon penghuni Wangi (aamiin). Sosok yang berwajah menawan ini berperan sebagai “Aini” yaitu ibu dari Sumiati (itu akuu.. itu akkuu)..  Rasanya kuping pengen copot waktu dengar dia nyanyi dengan  lirik dan syair bernada ngawuurr..  “Hou Wuhowuho Wuyeee”.. Dia adalah mantan Ketua dari Teater KITA yang telah sukses mengerjakan tugasnya. Selamat ya mbaak..

Mb.Putri  : Kalo ini jangan ditanya lagi.. Cewek ini benar-benar telah mengerjakan perannya sebagai “Sulastri” dengan penuh penghayatan (sampek2 karakter mak2nya ga bisa keluar. Hiihii). Cewek ini juga terkenal dengan kecekatannya dalam mengerjakan properti. Tapi kalo udaah cereweett.. amppuunn dehhh.. (tuh kan mak2nya keluar).

Bang.Sue : Mbarsari kampung… haha.. Wajah dari makhluk ini begitu mistis dan suram sehingga memancarkan aura negative kpd org disekitarnya. Berperan sebagai tokoh yang alim nan bijaksana yaitu “Ustadz”. Orang paling gak bisa nahan ketawa waktu ngelihat dirinya memainkan peran. Tapi dua jempol kuberikan untukmu… J

Bang.Jey  : Jeng.. Jeng.. Inilah ketua KITA yag baru.. Makhluk penghuni Gg.Rambutan ini berperan sebagai “Bejo” alias Joe.. Makhluk ini memang mempunyai wajah yang sulit ditebak alias misterius. (wooowwwhh…!!!!)

Mb.Sofie : Gadis berkacamata yang sanggaaatt feminime ini (jalan pakek sepatu highhills gabisa kok diwarah feminime.. hehe) berperan sebaga “Suprinah”.. Ups.. “Supinah” kamsudnya.. Cewek karate ini telah menjadi lawan main atau partnerku selama satu bulan.. Makasih ya mbak sudah mau jadi partner dari cewek autis kayak aku..

Titin           : Cewek manis nan mempesona ini (numpang narsis ya mbak2, mas2, kawan2 semua) berperan sebagai “Sumiati” (panggil gue Mi..iiita). Adegan yang dimainkan bersama Bejo dan Supinah benar2 konyol dan menggelikan.. (sebenarnya aku juga tak kuasa lihat adeganku sendiri.. hehe). Desas-desusnya nih, karakter Sumiati masih nempel dalam diri cewek imut berumur 15 tahun ini. ( wadduu,, benar gak ya???).
********************************          
Crew musik juga perperan penting dalam pergelaran ini. Okelah Sodara2 sekalian.. Langsung aja ennyyook kita intip sapa saja tokoh dibalik crew musik.. yyuukk cap cuz..

Mas.Peb      : Alumni dari teater KITA ini merupakan sesosok makhluk yang ngepens beud sama ayahku, berasal dari negeri antabaranta yang bernama Wangi. Dia adalah pencipta lagu “Telaga Rindu”, lagu yang benar-benar keren abizzz dan digemari banyak orang ( termasuk aku ), lagu tsb telah digunakan untuk soundtrack “Perempuan Telaga Duka”. TOP banget buat Mas.Peb… \^.^/

Mas.Marya: Marya Debora Luisa Penelope Mocu Claudia Abraba Bella Sintia Cornelius Protectus Alfonso Equil Da Barbara Margaretha... Itulah nama lengkapnya.. (sepanjang gerbong kereta api ). Cowok yang bukan termasuk anggota asli dari teater KITA ini sedang dikabarkan menjalin hub dengan salah seorang pemain.. (Tupai + Tokek = ????). Ckckckck.

Mas.Faezal : Cowok yang kabarnya mirip sama Vidi Aldiano ini juga ketua dari JC. Dirinya itu sangat pinter dalam urusan gombal-menggombal. Cowok basket ini juga mempunyai suara yang bisa dibilang lumayan laaahhh…

Mb.Phie       : Mbak Phie.. Jangan pergiii… bertahanlah 6 bulan lagi…. Kumohon… plliisss… Wanita berwajah jepang2 jawa ini mempunyai kulit putih, mata sipit, dan pipi tembem. Paling sensitive kalo ada seseorang mencubit pipinya. hehe. #Maap ya mbak kalo aq pernah rewel buat masalah kostum.

Mb.Tyas       : Adalah seorang yang penuh kehangatan, punya pipi yang sensasional yang biasanya dibuat mainan oleh Hafiz (memang ada kepuasan tersendiri setelah mencubit pipinya). Sekaligus anggota teater yang paling ramah… ^^ eemmuuaahh..

Mas.Ubed   : NDESSSOOO..!! (jurus andalannya).. anak IA yang super pede ini juga sebenarnya bukan anggota asli teater.. berhubung si dianya mungkin ketagihan sama teater (ato mungkin krn ada si *anu*??? heheh) jadi sekarang ini Ia resmi mjd anggota teater.. Smoga ente kerasaan ya di teater… oke.. NDDEESSOO…!! Hahaha..

Mas.Ucup   : “Gak usah Plerak Plerek deeekkk” (masih inget kalimat itu???) . Iyaps.. Inilah mantan komdis (waduuhh attutt). Dengan sekali tamparan mampu menghempaskan seseorang hingga jarak 200 meter (maauut). Teriakannya bisa terdengar sampai jarak 25km.  Ngakunya anggota teater tapi di absen tak tercantum namanya… (kasiaaaann.. hohoho..).

Mas.Deni     : Gatau juga sosok bukan asli anggota teater ini kayak gimana.. kayak tertutp gimana gituu… Yang pasti dianya merupakan mantan anggota OSIS dan kabarnya pernah juga mjd komdis…  (walah dalah.. yang bener???). Juga pernah juara 1 Lomba Logo Perpustakaan SMANDA (ga traktiran t mas??)

Mb.Phier     : Wajahnya unyuk2.. tampang2 polos, tak berdosa, dan amat teraniaya.. Wanita erotis ini juga merupakan ketua Kharisma. Kalo lagi nyanyi.. wwwooowwh.. suaranya mendayu bak Siti Nur Halizah.

Hafiz                  : Cemmppplluuukkkkk… pipi dari sosok  ini begitu berisi.. Dia menjabat sebagai bendahara (Ayo reekkkk bayar kas…!!!). Cewek yang bakal meleleh kalo terkena sinar matahari ini punya gaya yang dinamis. Paling histeris kalo denger lagunya Geisha (Robby …Robbbyy ..ahhhh!!!).

Kartika          : Pisang keju.. Pisang keju.. 1500an… (walah walah ^.^) cewek lebeh nan dramatis ini merupakan penghuni Prigen. Gadis ini berwajah klasik2 kuno gimana gitu... Kegemarannya makan cimol melulu (ati2 dadi molor lho). Tmpangnya penuh dengan nestapa.. hehe… guyon kar…

Rani               : Seorang yang juga termasuk  eksotis ini mampu memporak-porandakan jagad raya dengan kelebehannya yang mungkin sudah diatas rata-rata org lebeh pada umumnya. Cewek ini memang benar2 overlebeh sekaligus overnarsis.

Ayu                : Merupakan penghuni dari TMC ( Tretes Mini City ).. mampu memancarkan aura2 ke-alay-an kpd orang disekitarnya. Juga seorang Lady Rose sejati.. meetttaaaaaaaalll…

Rossy            : Ga terlalu kenal siiih.. Tapi kayaknya siih org ya asyik2 wae.. Gadis berkaca mata ini memang tak selebeh anak teater pada umumnya (tapi ya gak tau lagi)..

Mb.Vallin     : Cewek fashionable ini tiba2 muncul (mak cllliiiiing).. Punya gaya yang up to date.. penggemar bintang korea..  #Makasih lho mbak buat rok nya…. 

********************************          
Itulah tadi keluarga kecil KITA yang mampu melukiskan warna senja yang diselipkan dikehidupan KITA..  Terimakasih semuanya atas pengalaman dan motivasi yang kalian torehkan..

Buat Mbak.Dyah I Love You Full..

Mas.Peb makasih ya…

Mbk.tyas, Mb.Phie, Mb.Sofie, Mb. Cin, Mas. Fuat, Mas.Faesal,  Mb.Valin, Mas Marya, Mas Deni, Mas ucup..  Akan KITA teruskan perjuangan kalian… ^^ KITA akan buktikan bahwa KITA itu memang ADA dan tak kan biarkan org lain 
 melecehkan KITA… KITA bisa.. KITA mampu.. KITA  sanggup..

Untuk kawan2 seperjuanganku tercinta.. Jaga komitmen kalian.. Buat orang lain terpesona dengan KITA.. Tunjukkan arti KITA kepada dunia… Semangatt…!!!
Teater  KITA bukan teater biasa..
KITA..
Kenangan
Indah
Tetap
Abadi

Tak peduli KITA menang atau kalah… Karna sebenarnya KITA sudah menjadi PEMENANG.. We are The Real Champion :)

Puisi - Niaga Dalam Goresan

Kenal Wahyu Setiadi? Dia adalah salah satu penulis dari Pasuruan yang tergabung di Teater CuciOtak Rahmatalam. Pernah mendapat aktor terbaik se-jatim, penulis naskah terbaik se-jatim, dan sutradara terbaik se-jatim (entah event apa itu). Well, dari semua puisi yang telah dibuat sama Mas Wahyu, Tins paling suka dengan puisi yang satu ini :) weheheh. Check it out!



Niaga Dalam Goresan
Wahyu Setiadi

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Berdandan dengan debu menggelayuti mimpi yang bagiku cuma mimpi

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Tanpa sol sepatu di atas kaki mungilku menapaki panasnya hari

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Juga anak negri ini,juga berhak hormat pada merah putih

Lihatlah tuan-tuan aku adalah anak jalanan
Lihatlah tuan lihatlah....

Tuan lihatlah tuan...
Tanganku terkepal di paksa meninju kerasnya pagi
Lihatlah tuan,aku lihat tuan punya mata
Tapi aku tak lihat tuan punya hati

Cerpen - Robohnya Surau Kami - A. A Navis



Robohnya Surau Kami
Cerpen AA Navis

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek, "Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi."

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. "Apa ceritanya, Kek?"

"Siapa?"

"Ajo Sidi."

"Kurang ajar dia," Kakek menjawab.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, "Bagaimana katanya, Kek?"

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, "Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya. _ Alhamdulillah_ kataku bila aku menerima karunia-Nya. _ Astagfirullah_ kataku bila aku terkejut. _ Masya Allah_ kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya."

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

"Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘Apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya, bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memer`s. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!"

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.

‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek.

Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

"Ia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidak ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang," tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, "dan sekarang kemana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya, dia pergi kerja."
Robohya Surau Kami - A.A. Navis

Christine Ayu
Lihat profil lengkapku
 

Agen Dandelion | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates